Yogyakarta – Pengembangan teknologi kesehatan membutuhkan lebih dari sekadar perangkat yang mampu beroperasi dengan baik. Kesesuaian hasil dengan kebutuhan pengguna juga menjadi faktor penting sebelum sebuah inovasi dapat dimanfaatkan secara lebih luas. Hal inilah yang menjadi perhatian tim peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam mengembangkan mesin Tissue Processor, perangkat yang digunakan untuk membantu proses pengolahan sampel jaringan di laboratorium.
Sebagai bagian dari proses pengembangan, tim peneliti UGM bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) untuk melakukan pengujian mesin Tissue Processor menggunakan sampel jaringan secara langsung. Pengujian tersebut memberikan hasil yang sesuai dengan harapan dan dinilai memuaskan, sehingga menjadi salah satu capaian positif dalam proses penyempurnaan perangkat. Untuk menindaklanjuti hasil tersebut, kedua institusi menggelar Focus Group Discussion (FGD) pada Rabu (21/10/2026) di Yogyakarta. Pertemuan ini menjadi kesempatan bagi tim pengembang dan pengguna untuk mendiskusikan hasil pengujian, mengevaluasi kinerja perangkat, serta mengidentifikasi peluang pengembangan lebih lanjut.
Mesin Tissue Processor merupakan salah satu perangkat penting dalam proses persiapan sampel jaringan sebelum pemeriksaan histopatologi. Proses pengolahan jaringan yang baik diperlukan untuk mendukung tahapan pemeriksaan berikutnya. Oleh karena itu, pengembangan perangkat ini tidak hanya memperhatikan aspek teknis, tetapi juga kesesuaian fungsi dan kemudahan penggunaannya dalam kegiatan laboratorium. Pengembangan mesin tersebut dilaksanakan melalui Program Hibah Pengembangan Inovasi (HPI) Tahun 2026 dengan fokus pada peningkatan kesiapan teknologi dan validasi operasional perangkat berbasis reverse engineering. Program ini merupakan kelanjutan dari upaya pengembangan yang diarahkan untuk meningkatkan Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) dari 8 menuju 9, sebagai bagian dari persiapan pemanfaatan produk secara lebih luas.
Tim peneliti UGM terdiri atas Galih Setyawan, S.Si., M.Sc., Ph.D., Ir. Hidayat Nur Isnianto, S.T., M.Eng., dan Ir. Jans Hendry, S.T., M.Eng. dari Program Studi Teknologi Rekayasa Instrumentasi dan Kontrol, Sekolah Vokasi UGM, serta Dr. Ir. Bambang Hari Priyambodo, S.T., M.Eng. dari bidang teknik mesin dan Raden Roro Fosa Sarassina, S.E., MBA, Ph.D. dari bidang ekonomi dan bisnis. Sementara itu, kegiatan bersama Fakultas Kedokteran UNY dipimpin langsung oleh Dekan Fakultas Kedokteran UNY, Prof. dr. Kartika Ratna Pertiwi, M.Biomed.Sc., Ph.D., bersama jajaran dosen dan tenaga ahli yang turut memberikan masukan terhadap hasil pengujian dan pengembangan perangkat.
Dalam diskusi tersebut, hasil pengujian menggunakan sampel jaringan menjadi salah satu pembahasan utama. Tim peneliti memperoleh tanggapan dari pihak Fakultas Kedokteran UNY mengenai kinerja alat dan kesesuaiannya dengan kebutuhan laboratorium. Evaluasi ini menjadi bagian penting untuk memastikan bahwa perangkat yang dikembangkan tidak hanya memenuhi fungsi teknis, tetapi juga dapat digunakan secara efektif dalam praktik pengolahan jaringan. Selain membahas aspek pengujian, pertemuan tersebut juga membuka peluang kolaborasi yang lebih luas antara kedua institusi. Pengembangan perangkat laboratorium, penelitian bersama, serta pemanfaatan teknologi instrumentasi biomedis untuk mendukung kegiatan akademik menjadi beberapa peluang yang dapat ditindaklanjuti pada masa mendatang.
Kolaborasi antara bidang rekayasa dan kedokteran ini menunjukkan pentingnya keterlibatan pengguna dalam proses pengembangan inovasi. Melalui pengujian langsung dan evaluasi bersama, kebutuhan di lapangan dapat menjadi dasar dalam menentukan arah penyempurnaan teknologi. Keberhasilan pengujian awal menggunakan sampel jaringan menjadi langkah positif bagi tim UGM dalam melanjutkan proses validasi dan peningkatan kesiapterapan mesin Tissue Processor. Ke depan, hasil evaluasi bersama Fakultas Kedokteran UNY diharapkan dapat mendukung pengembangan perangkat yang semakin andal dan memiliki peluang penerapan lebih luas di laboratorium kesehatan.
Kegiatan ini juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals atau SDGs), khususnya SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan). Melalui kolaborasi lintas disiplin dan antarinstitusi, pengembangan teknologi diharapkan tidak berhenti pada hasil penelitian, tetapi dapat terus diarahkan menjadi inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.
